Sudut.

Aku melihat anak itu hampir 3 tahun.


Uh oh, coba lihat matanya kesana-kemari
kelabakan
kebingungan
ketakutan
Oh Tuhan, apa aku saja yang merasa.

Perasaan ini tidak nyaman!
Perasaan mengasihani juga terlalu arogan!

Harus bagaimana aku menamakan dan merasakannya?
Wahai Tuhan yang Maha Baik,
Hari ini aku melihat kegelisahan yang terulang sama,
ketika hari-hari pertama kami duduk.
Kenapa orang dewasa di depan tidak sensitif sekali?
Tapi kemarin, aku baru dengar ada macam orang dewasa yang memahami hal ini.
Oh Tuhan, orang dewasa itu baik sekali.
Aku ingin berteriak, "Terima kasih! seandainya semua orang tahu!"

Apa yang bisa aku lakukan?
Aku juga merasa sama jahatnya.
Aku ingin datang, mengulurkan tangan,
atau bicara, dan tidak bersikap menjadi dingin.

Kamu yang ketakutan,
aku juga merasakan hal yang sama. Setiap kali momen itu datang
Aku menakuti diriku sendiri, menakuti kamu, dan menakuti aku yang menakuti kamu

Kenapa aku harus merasa tertekan?
Apakah aku memiliki kewajiban untuk itu?



- Di tempat yang lain, dan pertemuan yang tidak disengaja lagi

Aku mencoba bersikap biasa saja,
mengalihkan pandangan,
pura-pura tidak tahu


Tapi aku tahu!
Oh rasanya jahat sekali!


Menemukan kamu yang masih kelabakan seperti itu,
Aku persis tahu rasanya
Tapi kenapa, aku juga harus persis tahu rasanya?
Kenapa tidak semua orang saja, supaya kamu tidak lagi diperlakukan seperti itu?
Atau kenapa aku juga sama-sama tidak merasakannya? sehingga, aku tidak perlu memikirkannya setiap tahun?
Oh, Kamu dan Aku yang malang!


Sampai kapan, aku harus melihatmu begitu?

- Di perjalanan menuju gang kecil

Aku merasa bersalah,
Dalam hati aku mengemis pemakluman Tuhan
Supaya Dia memaafkanku dan memahami posisiku

"Aku terpaksa!"

Oh, aku yang jahat
Semoga saja kamu yang ketakutan dan merasa seorang diri begitu, tahu kalau aku juga mengalami ketakutan yang sama.
Intinya, kamu tidak sendiri,
Bodoh, sampai matipun kamu tidak akan pernah tahu, soal kecemasan ini yang aneh sekali.
Kenapa aku merasa cemas tentang orang lain? sampai kubawa pulang dan menahun?

Aku merasa jahat dan tidak menolong apapun,
Tapi semoga rasa cemas, dan mata yang diam-diam selalu memperhatikan kebiasaan itu,
Dimaklumi Tuhan dan diterimanya sebagai pertanggungjawaban, meski ala kadarnya.

Aku mendoakan,
Meskipun orang dewasa dari sisi diriku mempertanyakan tentang doa konyol ini.

- Di pertemuan lain, aku senang

Kebiasaan yang buruk terulang lagi,
Aku merasakan sensasi kegelisahan dan kecemasan yang terulang lagi
Untuk sekian kalinya pada tiap-tiap tahun,
Aku takut

Takut.

Hari ini ada kesempatan,
Oh Tuhan menjawab niat baikku!
Ternyata Dia tidak tahan kalau terus memaklumi kekuranganku

Terimakasih atas jalannya.
Sekarang aku sudah merasa hadir dan mengulurkan tangan
Sesuatu yang ingin aku lakukan tapi tidak berani memulainya kalau tidak didorong Tuhan,

Kamu tersenyum lega,
Aku tahu tatapan itu sudah lama berharap,
Tapi aku yang jahat, kemarin-kemarin tidak berhasil membuka kesempatan itu

Aku juga pihak yang lemah,
Kamu tidak tahu saja.
Oh, sekarang lega sekali rasanya,
Aku bisa masuk ke dalam tempat kegelisahanmu itu.
Oh, aku gembira sekali!

Semoga saja, segera berakhir masa-masa itu untukmu.


Dari sudut,
09 Februari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERMAINAN POLISI ALGOJO!

1 semester di UI, udah ngapain aja?

KEPRIBADIAN INFJ